Sekolah, guru, alumni, siswa, prestasi?
Oktober 2010, bisa dikatakan menjadi bulan yang menyenangkan bagiku. Selain karena bisa dapat cuti kantor yang cukup panjang, aku bisa bertemu dengan guru-guru sekolah dulu di SMA St. Fransiskus. Perayaan Pesta Nama SMA St. Fransiskus ke-21 menjadi momen yang tepat.
:::Suasana Misa Kudus Perayaan Pesta Nama Sekolah SMU St. Fransiskus (foto : Harrys Laia):::
Aku datang seorang diri, dengan style khas ku, baju kaos berkerah & sangat murah, celana jeans yang sedikit luntur (kalau tidak salah, tempo hari aku membelinya di Pajak Melati), dan tentu saja sandal jepit yang setia menemaniku kemanapun. Aku rasa, harga sandal itu bahkan lebih mahal dari pakaian yang kukenakan, sekitar tujuh puluh ribu. Dengan sandal itu pula aku melangkah gontai ke arah aula tempat perayaan dilaksanakan.
Sesaat sebelum tiba ke aula terbuka itu, spontan imajinasiku mencoba mengingat-ingat kembali kenangan yang terjadi di sekitar aula ini. Aku tersenyum, teringat ketika kami berlatih senam di sini, melakukan salto atau berdiri dengan kedua tangan sesuai instruksi guru penjas, di pinggiran aula itu pula aku pernah berusaha mendekati seorang gadis,hehe,,itu privasi
Lamunanku buyar ketika seseorang mengulurkan tangannya, seorang yang berbadan sedikit lebih besar dariku. Ya, Pak Beatus Halawa menjabat tanganku dan menyambutku dengan hangat. Beliau salah satu guru favoritku, sebenarnya aku punya dua guru favorit, tapi aku takkan mencarinya, beliau sudah tenang di alam sana. Pak Beatus Halawa, kami lebih sering memanggilnya Pak Halawa, dia tak berubah, barangkali kacamata yang dipakainya adalah kacamata yang kulihat enam tahun yang lalu.
Ada beberapa guru yang duduk di sekitarku, Pak Purba, Pak Sitanggang, Pak Hombing, Pak Tinambunan, dan Ibu Tobing. Alumni Fransiskus pasti masih mengingat mereka. Guru-guru yang lain, sepertinya mereka duduk di depan. Singkat cerita, Misa dimulai dan aku juga mulai dengan beraksi dengan kamera kesayanganku. Setelah Misa, acara dilanjutkan dengan sesi ramah tamah.
Sesaat sebelum itu, tiba-tiba MC dengan riang dan lantang menyampaikan ucapan selamat datang untuk alumni, sesaat aku merasa itu untuk kami para alumni yang sedang duduk di bangku paling belakang. Eh, ternyata ucapan itu lebih dikhususkan kepada seorang gadis berkacamata hitam dan lebar, aku taksir harganya di atas seratus ribu. Dia baru saja tiba. Sontak semua pandangan mengarah kepadanya. Riuh tepuk tangan menyambut kedatangannya bak seorang pahlawan yang baru saja memenangkan sebuah pertempuran besar. Apaboleh buat, kami juga bertepuktangan. Sudahlah, aku tak mau terlalu larut ke hal itu. Toh yang terpenting adalah kami semua sedang merayakan Pesta Nama bekas sekolah kami.
Aku tak akan menceritakan satu persatu rangkaian acara itu, aku hanya akan menceritakan apa yang aku rasakan saat mengikuti seluruh acara. Secara keseluruhan, acara itu cukup mengharukan. Aku bisa bernostalgia, mengingat kembali ketika aku biasa mengikuti acara itu dengan pakaian dinas sekolah. Kini, aku dan teman-teman datang dengan pakaian bebas, ada yang mengenakan pakaian dinas karena masih mau menyempatkan diri untuk hadir, ada pula yang berpakaian sederhana, salah satunya aku
Rangkaian acara demi acara berlangsung, kami bahagia, tertawa bersama guru dan para alumni, ya khususnya alumni yang duduk di bangku paling belakang. Bangku kayu nan keras dan tak punya sandaran menjadi tempat ternyaman bagi kami saat itu, kenapa? Karena kami bisa duduk bersama! Bukankah itu hal yang menyenangkan? Bercerita tentang masa lalu, kenalan dengan alumni yang lebih tua atau muda dari kami, bercerita pada guru tentang aktifitas sehari-hari, kerja dimana, tinggal dimana, sudah menikah apa belum, dan lain-lain.
Sebuah hal yang lucu, selembar kertas diedarkan kepada kami. Sebelum tiba ke tanganku, aku bisa menebak apa maksudnya..sebutlah itu lembar kontribusi dari alumni atau kasarnya ‘sumbangan’ untuk sekolah. Nominalnya bervariasi, mulai dari kepala satu hingga lima, namun aku bisa pastikan tidak akan lebih dari enam digit
Kusempatkan menghitung cepat jumlah keseluruhan, walah, totalnya pun tak bisa menyamai sumbangan pribadi dari alumni ‘khusus’ yang duduk di depan, di kursi empuk dan nyaman itu. Tapi kami tak malu dengan jumlah yang ‘sedikit’ ini, karena kami memang tulus memberinya, memberi benar-benar dari kekurangan kami, bukan dari kelebihan kami, menurutku itu jauh lebih berarti ketimbang mengumbar apa yang tak kami miliki
Bicara tentang prestasi, beberapa dari kami dulu adalah siswa berprestasi. Kami digodok oleh guru-guru agar selalu belajar keras sehingga bisa masuk ranking dan juara. Namun, ada satu yang kusesalkan dalam hati, prestasi yang dulu selalu kami raih seperti tak ada maknanya lagi saat acara itu. Kepala sekolahnya saja tak ingat siapa aku, aku mau sedikit lebih sombong, ketika tim sekolah berhasil menembus babak final Piala Ikamasta 2004 lalu, aku adalah satu-satunya anggota tim yang mampu mencetak gol meskipun pada akhirnya kami harus kalah lewat adu pinalti, pelatihku saja tak ingat siapa aku…hahahaha…ah, itu hanya seloroh saja, pembaca jangan terlalu ambil hati ya.
Setelah beberapa saat merenung, aku menyimpulkan suatu hal. Barangkali yang terpenting saat ini adalah bagaimana menjadi alumni yang berprestasi dan bukan siswa berprestasi. Bisa saja aku salah menyimpulkan, namun itulah hasil refleksiku.
Namun, masih ada pertanyaan yang masih harus kurefleksikan, alumni berprestasi itu apa? Okelah, alumni adalah lulusan sekolah, sedangkan berprestasi adalah sukses. Hmmm,,,sukses itu berwujud apa? Sukses jadi artiskah? Jadi PNSkah? Jadi pengusahakah? Jadi gurukah? Jadi pejabatkah? Jadi orang kayakah? Atau jadi pembawa/ pengembang/ pengharum nama baik sekolah?
Yuk, kita refleksikan bersama…
:::Beberapa guru yang berhasil kupotret (foto : Harrys Laia):::

Terima kasih Bang Poberson Naibaho…
Kalau boleh tau, Bang Poberson alumni tahun berapa?
wah aku sih masih baru kok haha
aku tamatan 2009 IPA
klu boleh tahu siapa sih penulis ini?
ini sedikit mengenai aku : http://pobersonaibaho.wordpress.com/about/
Hallo Poberson, jurusan kita sama, hanya beda tahun
Saya Harrys Laia, lulusan IPA 2004.
Yuk berkontribusi lebih banyak lewat tulisan-tulisan kamu di blog ini.
Terima kasih.
wah setelah membacanya ada rasa senang, rindu, dan ada rasa sedih juga..
Terutama pada opini “MC dengan riang dan lantang menyampaikan ucapan selamat datang untuk alumni, sesaat aku merasa itu untuk kami para alumni yang sedang duduk di bangku paling belakang. Eh, ternyata ucapan itu lebih dikhususkan kepada seorang gadis berkacamata hitam dan lebar”
Sebelumnya aku mau tanya apa betul dikhususkan untuk dia?? atau hanya perasaan abang atau kakak. Menurutku positif aja mungkin belum didata berapa banyak alumni yang datang jadi mereka tidak tahu. Tapi ini sekaligus juga autokritik untuk acara2 berikutnya agar alumni yang datang dicari tahu, dan jangan sampai ada penilaian secara eksklusif.
Alumni yang sukses?? menurutku bila dia sudah berhasil mencapai cita2 atau targetnya dan bisa berguna dan menjadi pembangun bagi orang lain.
Tapi penilaian sukses saja bagi setiap orang sudah beda. Tapi sekarang sudah sering mengarah pada Jabatan/materi dan ketenaran.
Marilah kita refleksikan lagi.
Semua tulisan di atas adalah ungkapan perasaan,,,kan banyak ‘aku’ nya
Bang Poberson ga ikut acaranya? Yang tertulis di atas adalah apa yang kulihat dan kurasakan. Aku tak menyalahkan siapa-siapa dan memang tak ada yang salah.
Oiya, di pintu masuk ada penerima tamu kok, dan ada buku tamu khusus alumni. So, tentu saja dong bahwa ada yang tau kalau alumni yang datang bukan cuma ‘satu’
Ah, itu sudah berlalu, mari kita berjuang menjadi sukses, atau lebih spesifik lagi ‘alumni yang sukses’…
Iya iya berarti perasaan anda saja.. tapi bukan berarti itu salah.. mungkin saja benar..
Iya sih aku g datang.. hehe.. Klu ada buku penerima tamu.. berarti memang ada kekurangan yg perlu dibenahi..
Aku akan berjuang sukses :
1. Untuk Tuhan
haha kejauhan 
2. Untuk mensukseskan sesama manusia
3. untuk keluargaku termasuk yg di sma st Fransiskus
4. Untuk diriku dan keluargaku nanti..
4. untuk
hmmm…
sepertinya aku bisa mengerti kenapa wanita bekacamata dan berkelas, yang juga sesama alumnus seperti lebih diistimewakan..semua sepertinya mengacu pada harapan oknum tertentu yang tentu saja bukan sekedar mengharapkan kehadiran para tetamu nya, tetapi justru pada target nominal.
Barangkali bisa seperti itu…di satu sisi memang ada baiknya, ya mungkin untuk membantu menyokong kesuksesan beberapa acara penting. Hanya saja ke depan jangan sampai timpang antara penghargaan terhadap undangan (guru, siswa, orang tua, alumn) yang datang dengan undangan yang ‘berpotensi’…hehehe…
SMU St. Fransiskus jaya selalu !
wahhh jadi iri ama kalian yg bs ikut reuni…
hmmm harry…adekk kelasku yg :
lugas n culun:
lugas : lugu- lugu tp ganas…
and culun….apa ayoo…
berjalah almamaterku..
berjalah sobat-sobatku…
berjalah negeriku…
berjalah……..Gerejaku….
pro Deo et Ecclesia..
salam n doa
Haha…hallo bang Bosran…
Apa kabar? Sekarang dimana?
untuk senua apa kabar………………………..^_^
Syalooommm
Hora…..sss
Manjuah juah…
Yahoooobuu….
salam kenal sodaraku……sy alumni 99
nama saya donald mangasi doloksaribu
saya sngat snang,bahagia,gembiara,trharu smua bercampur mnjd satu,saat saya membaca tulisan anda.memang sbenarnya saya belum bisa memberikan yg trbaik buat skolah kita,tapi saya slalu brusaha tuk menggapai&meraihnya.
Trimakasih atas informsi tulisan dari kamu.
akan saya jadikn ini suatu motifasi terhadap diriku tuk brusaha slalu,karena aku mempunyai kerinduan besar kapada skolah,asrama&teman2x.
kabari apabila ada kegitan alumni di jakarta,
karena saya berdomisili di jakarta.
trimakasih,mauliate.sawagele,thankyou or gooddanke.
TUHAN memberkati kita selalu…
Ameeen.